Family Ties

Bila kita mengingat kehidupan Daud, mungkin kita bertanya-tanya, apakah yang membuat Daud berkenan di hati Allah? Ia jatuh sesering ia berdiri. Ia melawan Goliat, tapi merayu Batsyeba; ia memimpin bala tentara tapi tidak dapat mengurus keluarganya; Daud yang memiliki satu Allah, namun memiliki 8 istri. Berkenan di hati Allah? Sebagian mungkin merasa kisah Daud mengecewakan, sebagian menganggap kisah itu menenteramkan hati. Seberapa baik kita bila dibandingkan dengan Daud? Tidak ada yang dapat melebihi saat-saat terbaik Daud, juga adakah yang lebih buruk dari saat terburuk Daud? Hati yang dikasihi Allah adalah hati yang tidak mulus.

Salah satu saat terberat Daud adalah ketika ia diusir dari istananya sendiri oleh putranya Absalom. Nubuat nabi Natan terbukti sungguh menyakitkan (2 Samuel 12:10). Seorang putra Daud, Amnon, memerkosa adik tirinya, Tamar lalu mencampakkannya. Bagaimana respon Daud? Ia hanya menjadi sangat marah, tidak ada hukuman, tidak ada teguran, tidak ada tindakan sama sekali terhadap Amnon. Ia pun tidak melakukan apa-apa bagi Tamar. Oleh karena itu Absalom membunuh Amnon. Sekali lagi ia tidak turun tangan, ia menangis diam-diam. Daud menelantarkan semua anaknya. Pada masa akhir hidupnya, anaknya Adonia melancarkan kudeta.

Daud mampu mengurusi begitu banyak hal dengan baik, namun menyangkut keluarga ia gagal. Bagaimana kita menjelaskan apa yang terjadi di tengah keluaraga Daud? Tidak ada mazmur yang pernah ditulisnya mngenai anak-anaknya maupun isterinya. Selain doa yang dipanjatkan untuk bayi Batsyeba, Alkitab tidak menunjukkan Daud pernah mendoakan keluarganya. Ia berdoa tentang orang filistin, memohon pengampunan bagi pasukannya, mendoakan Yonatan dan Saul, tapi tidak keluarganya. Apakah Daud terlalu sibuk? Merasa terlalu tinggi untuk mengurusi masalah keluarga? Atau merasa terlalu bersalah sehingga tidak mampu menegur puteranya?

Dan sekarang terlalu terlambat. Absalom akhirnya mati di tangan prajurit-prajurit Daud. Namun belum terlambat bagi kita. Keluarga adalah prioritas tertinggi kita. Pada hari pernikahan kita, Allah meminjamkan karya seniNya: suatu karya yang rumit pengerjaannya, tiada duanya untuk kita miliki. Hormatilah suami kita.

Peganglah janji yang telah kita ucapkan di hadapan Tuhan, bersikaplah sangat setia.

Peliharalah anak-anak yang telah dianugerahkan Tuhan.

Anak-anak mengeja kata cinta dengan 5 huruf yaitu W-A-K-T-U. Mereka tidak memahami konsep yang penting kualitas bukan kuantitas. Waktu adalah waktu, termasuk waktu yang mepet, kapan saja. Anak-anak adalah panggilan kita, pasangan kita adalah harta berharga kita.

Pada akhir hidupnya, Daud tidak ditemani keluarganya (1 Raja-Raja 1:3-4). Ia mati didampingi orang asing. Namun belum terlambat bagi kita. Sukses terbesar adalah sukses membina keluarga.

(disarikan dari :Facing Your Giants oleh Max Lucado)

Iklan

1 Komentar

  1. soongseechoo said,

    4 Juni 2010 pada 19:37

    keluarga rohani lebih erat daripada keluarga physical ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: